Share it

Minggu, 27 Februari 2011

Marketing 3.0 dan Lembaga Kemanusiaan

Seiring perubahan yang terjadi di segala bidang kehidupan, dunia marketing-pun tak lepas dari peruahan ini. Era marketing yang mengedepankan profit semata secara perlahan berubah. Era marketing dengan orientasi profit juga disebut dengan era marketing 1.0 (baca : one point “o”). Dan perubahan model Marketing 1.0 ke marketing selanjutnya disebut dengan Marketing 2.0. Di mana era Marketing 2.0 ini mengubah dari product centric ke customer-centric era. Dan sekarang kita melihat bahwa marketing telah mentransformasi diri ke dalam human-centric era. Perubahan kea rah nilai-nilai yang lebih humanis inilah yang dinamai dengan Marketing 3.0. Dalam model marketing ini di sana nilai-nilai dilekatkan pada misi dan visi perusahaan. Perusahaan dan para pemasar dalam konsep marketing ini juga didorong menginkorporasikan visi yang lebih manusiawi dalam memilih tujuan-tujuan mereka. Salah satu prinsip Marketing 3.0 dalam bisnis adalah adanya keberlanjutan (sustainability).

Perkembangan Marketing
Dalam sejumlah buku dan artikel tentang marketing terkini, khususnya tentang marketing era baru, yakni era 3.0, dijelaskan bagaimana sejarah marketing bergulir. Marketing 1.0 adalah marketing yang berfokus pada produk atau dengan istilah lain disebut “Product-Centric Era”. Di mana kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan produsen. Di sini, konsumen sedikit diabaikan dan yang penting adalah bagaimana produsen membuat produk yang bagus dan laku dipasaran. 

Setelah berakhir era marketing 1.0, segera kita mengenal Marketing 2.0. Era marketing ini adalah marketing yang berfokus pada pelanggan, dengan istilah lain disebut “Customer-Centric Era”. Lebih maju dari marketing 1.0, di sini kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan pelanggan. Selain produk yang bagus juga memperhatikan aspek keinginan pasar yang ada.

Dan perkembangan yang terkini adalah Marketing 3.0 yaitu marketing yang berfokus pada kemanusiaan, dan disebut dengan “Human-Centric Era”. Kegiatan marketing produk bukan yang utama lagi, karena disini pelaku bisnis justru lebih menonjol aktifitas kemanusiaannya, dengan berbagai kegiatan sosial maupun pelestarian lingkungan hidup.

Dalam marketing 3.0 ini, ada tiga kekuatan yang ada di dalamnya, yaitu : Digitalization, Globalization dan Futurization. Digitalization, saat ini kita hidup dalam era teknologi digital yang tak terbatas. Banyak hal saat ini yang dijalankan secara digital dan hanya dengan memencet satu atau beberapa tombol tertentu. Satu tombol ”klik” saja, kita bias jadi telah melakukan sebuah perubahan yang signifikan.  Dengan munculnya fenomena ”blog” juga, orang dengan bebas dan penuh ekspresi menulis dan mengkomunikasikan apa saja yang menjadi isi kepalanya. Termasuk di dalam dunia maya ini, sejumlah upaya transaksi dan jual beli bisa dilakukan. Faktanya, ada sekitar 1.2 juta posting blog disetiap harinya atau 50 ribu blog terupdate tiap jamnya. 

Yang kedua adalah globalization, kalau jaman dulu globalisasi identik dengan anggapan dunia yang kecil “Smaller World” di mana kita bisa tahu apapun yang terjadi di belahan bumi lain dengan akses informasi yang begitu terbuka. Maka saat ini globalisasi lebih diartikan sebagai “Flat World” dengan anggapan bahwa setiap individu dengan satu PC, sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi leader. Faktor yang jelas yang mempengaruhi globalisasi model baru ini adalah “social culture” dan “political legal”.  Yang ketiga adalah Futurization, untuk saat ini di samping menjadi “yang berbeda” juga diperlukan kreatifitas yang tinggi. Market, sebagai sasaran dalam bisnis sudah begitu cerdas untuk bisa menilai produk yang kita buat.

Dalam konsep Marketing 3.0 menurut Hermawan Kertajaya, ada 10 kredo yang seharusnya dilakukan marketer agar mereknya bisa berkelanjutan di era New Wave, era serba transparan dan horisontal ini. Ke-10 kredo itu adalah :
  1. Cintai pelanggan dan hormati pesaing
  2. Tanggaplah pada perubahan dan siaplah untuk berubah
  3. Jaga reputasi dan pastikan siapa diri anda sebenarnya
  4. Pelanggan sanagt beragam, sasarlah pelanggan yang mendapatkan manfaat paling banyak
  5. Selalu tawarkan paket yang bagus dengan harga wajar
  6. Pastikan bahwa anda selalu ada untuk pelanggan dan sebarkan berita baik
  7. Raih pelanggan, pertahankan dan kembangkan mereka
  8.  Apapun bisnisnya, akan selalu menjadi bisnis pelayanan
  9. Selalu sempurnakan kualitas, harga dan deliver
  10. Kumpulkan informasi yang relevan dan gunakan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan
Keuntungan Lembaga Kemanusiaan
Bagi lembaga kemanusiaan, atau organisasi sosial kemanusiaan, perkembangan marketing seperti saat ini yang menjadi trend marketing 3.0, jelas sangat teruntungkan. Dengan semakin kuatnya dorongan kepedulian perusahaan-perusahaan serta korporasi jelas menambah terbukanya peluang kerjasama dengan mereka. Lembaga kemanusiaan juga semakin berperan penting, mengingat core aktivitas perusahaan sendiri rata-rata bukan di dunia social kemanusiaan. Perusahaan yang ada umumnya akan tetap focus pada bisnis mereka masing-masing dan dalam implementasi social kemanusiaan perusahaan dengan sendirinya akan menggandeng sejumlah lembaga yang memang core aktivitasnya di sana.

Selain itu, dengan pengalaman dan legal formal yang dimiliki, lembag kemanusiaan yang ada dengan sendirinya akan lebih mudah dan tentu saja bisa focus dalam menangani sejumlah urusan social yang menjadi bagian dari kepedulian perusahaan. Kini secara umum permasalahan kepedulian perusahaan dituangkan dalam wujud CSR (corporate social responsibility) yang tidak lain merupakan implementasi model marketing 3.0. 

Dengan perkembangan ini, sinergi corporate dengan lembaga kemanusiaan dipastikan akan semakin meningkat dan tentu saja secara kapasitas masyarakat yang dibantu-pun dengan sendirinya bertambah jumlah maupun kualitasny. Tinggal bagaimana selanjutnya sinergi ini mampu melahirkan program-program yang semakin tajam dan berkualitas dalam mendorong usaha-usaha perbaikan kualitas hidup masyarakat, terutama mereka yang secara ekonomi berada dibawah garis kemiskinan. Program-program yang digulirkan juga sebaiknya selain mengandung unsure pemberdayaan, saat yang sama pula harus memiliki konsep sustainability. Artinya program-program sinergi yang ada bukan justeru lebih banyak untuk charity, melainkan bersifat empowerment. Semoga.       

Kamis, 24 Februari 2011

MEMPERTAHANKAN HARAPAN

Harapan bukan segalanya dalam sebuah perjalanan, tapi tanpa harapan perjalanan panjang hanyalah akan menciptakan kelelahan dan kebosanan.  Harapan laksana seberkas cahaya, walau kecil ia mampu memberikan warna berbeda terhadap sebuah suasana. Dengan cahaya yang ada, tergambar jelas mana bayang-bayang dan mana sebuah benda yang nyata ada. Dengan cahaya pula tergambar jelas mana kegelapan yang memerangkap sudut pandang dan mana jalan yang bisa dilalui dengan aman.

Dalam kafilah besar sebuah perjalanan, harapan adalah energi kekuatan di samping perbekalan yang dibawa untuk menemani perjalanan dan memenuhi segenap keperluan. Harapan ini akan berguna manakala perjalanan semakin mendaki karena medan yang terbentang mengantarkan pada sebuah lansekap menuju puncak ketinggian. Harapan menjadi penawar kegamangan manakala menuju puncak perjalanan. Perjalanan mendaki semakin tidak mudah dan menyenangkan. Pemandangan yang indah atas bentang alam yang demikian luas terhampar kadang tak terasakan indah lagi di kedua pelupuk mata. Kehijauan pepohonan dan birunya langit yang benderang, kadang tak mampu tertangkap dengan tenang dan menjadi peredam ketegangan.  

Semakin ke atas, perjalanan terus meningkat kesulitannya. Tekanan udara yang semakin kuat, kandungan oksigen yang perlahan berkurang serta kabut tebal yang menutupi pandangan perlahan datang mengiringi perjalanan. Belum lagi kecuraman yang dilalui, semakin lama, ternyata semakin ekstrem. Dan tentu saja, saat yang hampir  bersamaan kaki semakin berat untuk dilangkahkan dan beban dipunggung-pun seakan berlipat-lipat beratnya. Rasa dingin yang menyejukan pada awalnya sedikit demi sedikit menjadi ancaman sebenarnya, menekan perasaan hingga kesadaran yang dimiliki. Tak jarang ada yang bahkan tak kuat lagi dikepung rasa dingin, kesadaran bisa hilang dan kontrol tubuh tak bisa lagi dimiliki (hypothermia). Perbekalan dengan sendirinya terus berkurang di sepanjang perjalanan, semakin tinggi kebutuhan terhadap makanan ternyata semakin sedikit bekal yang ada. Rasa sesal tadi terlalu bernafsu menghabiskan bekal tiada berguna ketika itu. Yang ada hanyalah pikiran keputus-asaan yang mulai datang menggoda untuk merebut porsi harapan yang tersisa. 

Kafilah besar yang sedang menuju puncak ketinggian amat rawan perpecahan. Apalagi bila ada jarak yang terentang diantara peserta pendakian. Bagian demi bagian dalam perjalanan yang panjang disadari atau tidak, secara alamiah akan membentuk kelompok-kelompok kecil dalam kafilah. Pengelompokan ini, selain karena kedekatan tempat asal, bisa juga karena kesamaan kultur, kepentingan serta adanya kebutuhan yang sama. Seiring waktu, sejumlah perbedaan tersingkap dan terlihat semakin nyata. Yang tadinya beda persepsi dan sudut pandang bisa saja meningkat menjadi perbedaan pilihan strategi dan taktik yang dijalankan. Yang tadinya perbedaan karena masalah cara, bisa pula berubah karena kepentingan dan kebutuhannya yang merasa terusik dan dilanggar. Semakin rumit perbedaan, semakin terbuka perpecahan. 

Dalam kafilah perjalanan yang besar, biasanya terbagi dalam sejumlah bagian-bagian. Bagian terkecil adalah mereka yang di depan, berikutnya adalah mereka yang ada di tengah dan terakhir, dengan jumlah paling besar, justeru berada di bagian akhir dari deretan kafilah yang berjalan. Masing-masing bagian ini memang memiliki warna dan karakter tersendiri. Dan sengaja tidak sengaja, ada sejumlah pemimpin yang akan lahir dari setiap kelompok ini. Pemimpin-pemimpin ini sendiri ada yang memang diangkat pemimpin kafilah atau terbentuk secara alamiah di tengah-tengah perjalanan yang panjang. Yang susah justeru ketika para pemimpin alamiah ini yang lahir lebih banyak dan juga lebih menentukan dibanding  dengan yang sengaja dipilih dan diputuskan kafilah perjalanan. 

Kelompok orang-orang yang di depan adalah kelompok dengan jumlah paling sedikit. Mereka orang-orang pilihan dari sejumlah latar belakang. Biasanya mereka orang yang bergegas berjalan menerabas medan yang sulit, bahkan terjal. Mereka bukan saja harus terus maju ke depan, bahkan lebih dari itu mereka punya tugas memastikan jalan yang ditempuh benar dan aman. Benar artinya yakin jalan yang akan dilalui akan mengantarkan ke puncak ketinggian dan mengantarkan pada tujuan awal perjalanan yang dilakukan, sedangkan aman bermakna bisa dilalui dengan selamat hingga akhir perjalanan.

Orang-orang di depan bukan saja harus lebih banyak berkeringat, karena beban perjalanan dan tuntutan akan pastinya jalan yang akan di lalui. Mereka juga dengan sadar harus merelakan tubuhnya terluka hingga berdarah-darah terkena duri-duri pepohonan, pucuk-pucuk tajam ilalang hingga tergores batu-batu yang terjal disepanjang perjalanan. Mereka pun adalah orang-orang yang harus memiliki tenaga ekstra, karena mereka bukan hanya maju ke depan semata, mereka adalah pembuka jalan yang harus menerabas segala rintangan dan penghalang yang menutupi jalan. Tangan mereka tak hanya memegang perbekalan makanan dan minuman. Mereka-lah yang membawa parang dan sejumlah benda-benda  tajam untuk memberikan kepastian jejak perjalanan dan ketersediaan ruang yang cukup untuk bisa dilalui oleh orang-orang setelahnya.  Bagi orang-orang yang ada di barisan depan, masa depan bukan semata ia pikirkan untuk dirinya, melainkan juga untuk keseluruhan kafilah-nya yang akan terus secara bergelombang memasuki dan menapaki jalan-jalan baru yang senantiasa harus di buka dan dibuat. Sekali jalan ini terhenti atau buntu, maka tentu saja dampaknya bukan hanya orang-orang terdepan tak layak dipercaya, mereka juga akan dicatat sejarah sebagai orang-orang yang kalah.

Setelah orang-orang di depan, terdapat mereka yang ada di tengah kafilah. Mereka berada pada posisi  yang jauh lebih nyaman, tak terlalu mengalami kesusahan dan tak perlu berdarah terlalu banyak. Mereka dengan mudah melangkah, menghindari duri-duri dan ilalang, yang malah sebagiannya telah aman terpangkas. Mereka juga dengan leluasa menghindari genangan darah karena luka terbuka yang mungkin terjadi pada pendahulu mereka. Mereka tak melihat bahaya-bahaya yang mengancam dan datang mengganggu kafilah perjalanan. Mereka lebih banyak melihat punggung, kaki yang melangkah serta bagian belakang para pendahulu mereka. Karena yang terlihat bagian belakang, kadang mereka tak melihat luka-luka yang ada, atau darah yang merembes menembus pori-pori yang tersayat. Mereka maksimal hanya melihat lelehan keringat yang muncul di leher bagian belakang. 

Mereka terkondisikan terlindungi, sehingga tak memahami dengan baik apa sebenarnya yang terjadi di bagian depan kafilah yang berjalan. Yang sangat ironis, ketika terbentang jarak antara kelompok depan dengan bagian tengah kafilah. Semakin jauh jaraknya, bisa beresiko memunculkan sejumlah persepsi dan pemahaman yang berbeda. Bisa saja bagian tengah ini malah berbeda cara pandang. Ketika bagian kafilah depan suatu saat menghibur diri dengan sejumlah aktivitas untuk melepas kepenatan sambil mengatur ulang strategi yang dijalankan, justeru dipahami oleh yang ada di lini tengah sebagai sebuah selebrasi kemenangan. Mereka dengan tak memahami substansinya, bisa saja mengadakan sesuatu yang justeru bertolak belakang dengan apa yang terjadi di depan. Bisa saja jeda yang terjadi dianggap telah tercapainya tujuan perjalanan yang dilakukan. 

Kondisi berikutnya, justeru lain lagi. Mereka yang ada di lini belakang semakin rawan tertinggal atau memutuskan ikatan dengan kafilah yang terus berjalan. Karena ruang terbuka di belakang jauh lebih luas dan terbentang, maka orang-orang belakang lebih suka memalingkan muka menatap belakang dibanding hanya melihat punggung, kaki dan bagian belakang mereka yang ada di lini tengah. Mereka sudah tidak merasakan semangat yang kuat sebagaimana lini depan, pun mereka tak lagi melihat keringat yang membasahi punggung dan leher orang-orang yang ada di depannya. Karena memang lini tengah jauh lebih aman dan tak terlalu menguras tenaga, maka keringatpun hanya seadanya dan tak sedramatis mereka yang di depan. 

Bagi mereka yang banyak menyesaki barisan belakang, demikian besar godaanya. Satu sisi mereka merasa tak mungkin menyusul ke depan dan berperan laksana pahlawan. Sisi yang lain mereka menyadari mereka hanyalah pewaris, yang hanya meneruskan apa yang telah dilakukan. Menjadi pengikut bagi sebagian orang terkesan tak memberi kebanggaan dan kekuatan berprestasi. Maka wajar, di barisan belakang ini, bukan lagi satu atau dua orang yang tergoda, bisa saja jumlahnya jauh lebih besar dari itu. Dengan usia bergabung yang masih sangat sebentar, produktivitas dan kesempatan yang terbuka lebar, mereka menemukan banyak peluang pada sejumlah kafilah lain yang berada di bagian belakang mereka. Terbayang di sejumla benak mereka : “andai bisa berada di posisi depan, tentu bisa berbuat lebih banyak bagi masa depan”.

Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah(2):155). 

Batuampar sesaat sebelum fajar, 25 Februari 2011

Nana Sudiana

Nb : Untuk para pemimpin kami, tetaplah tegar dalam kesabaran.  

Kamis, 10 Februari 2011

ARTI LOGO & WARNA PKPU







Arti Logo PKPU
  • Logo PKPU menggambarkan simbol PKPU yang merepresentasikan soliditas, dinamis dan berorientasi pada kemajuan masa depan. Logo ini terdiri dari dua bagian yang menjelaskan tentang PKPU itu sendiri dan kata Lembaga Kemanusiaan Nasional yang menjelaskan bidang layanan PKPU.
  • Logo PKPU dengan menggunakan huruf kecil (lower case) menggambarkan kerendahan hati, keramahan & kehangatan dari setiap individu yang ada di PKPU.
  • Elemen sayap dalam logo PKPU merepresentasikan kecepatan layayanan PKPU.
  • Logo PKPU, terutama tulisan PKPU juga mengandung persfektif tiga dimensi. ini bermakna bahwa PKPU memiliki kesiapan bekerjasama secara luas dalam berbagai dimensi yang ada dengan pihak manapun.


Arti Warna logo PKPU
  • Penggunaan warna pada logo PKPU mengandung arti sebagai berikut :
          -  Biru melambangkan pelayanan publik 
          -    Merah melambangkan keberanian
  • Warna Biru yang digunakan dalam logo PKPU juga diharapkan memiliki makna ketenangan, kedamaian dan kepercayaan. Dalam konteks ketiganya diharapkan akan tumbuh juga sikap yang dinamis, penuh kreativitas, loyalitas serta idealisme dan keyakinan yang dalam. Dalam warna biru ini juga diharapkan menjadi simbol bagi tumbuhnya inspirasi untuk umat dan bangsa.
  • Secara keseluruhan, corporate logo PKPU ini berupaya mengkomunikasikan pesan kecepatan layanan, institusi yang kokoh & dinamis serta menampilkan citra sebuah lembaga yang mampu mengelola dana filantropi masyarakat dengan lebih  cepat dan lebih terarah dalam bingkai nilai-nilai budaya organisasi yang dimiliki PKPU yakni jujur, tanggungjawab, kerjasama, cepat dan peduli dalam membangun kemandirian serta dalam menebar kepedulian untuk kepentingan umat dan bangsa.

11 Tahun PKPU ; Sinergi & Mengabdi

Perjalanan PKPU tak terasa kini sampai di usianya yang ke 11 tahun, tepatnya kemarin pada tanggal 11 Desember 2010. Di usia ini, tentu saja perjalanan yang telah di tempuh PKPU bukan perjalanan yang sebentar. Ada serangkaian peristiwa yang mengiringi perjalanan ini, baik peristiwa yang menyenangkan maupun peristiwa yang menyedihkan. 

Walaupun tidak ada tumpengan, atau seremonial acara untuk memperingati usianya yang ke-11 tahun ini, kita semua tentu saja sangat berkeinginan agar PKPU terus tumbuh dan berkembang lebih baik. Saat yang sama, kita juga berarap PKPU mampu memberikan dampak positif bagi anak bangsa, terutama dalam perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat. 

Dalam moment memasuki usia sebelas tahun ini PKPU memberikan sebuah penanda atas perjalanan ini. Hal ini tidak lain sebagai sebuah moment penting terhadap sejarah perjalanan lembaga ini. Dalam moment ini PKPU mencanangkan tagline-nya di tahun kesebelas ini dengan dua kata singkat : “Sinergi dan Mengabdi”.

Kata “Sinergi” bila kita cermati, ternyata maknanya jauh lebih dalam dibandingkan kata “kerjasama”. Kata “Sinergi” juga bukan sebuah hal tiba-tiba secara selintas munculnya. Walau terkesan sederhana, menemukan esensi sinergi dalam makna perjalanan sebelas tahun PKPU bukanlah asal-asalan. Proses sinergi ini, yang diharapkan menjadi semacam ruh bagi bekal organisasi PKPU dalam memasuki dasa warsa kedua usia lembaganya.

Bila kita flashback melihat perjalanan PKPU, dulu kata kunci yang sering menginspirasi organisasi ini adalah kata “peduli”. Apapun moment dan kesempatan yang ada, kita secara terus menerus memaknai proses yang terjadi, baik internal maupun eksternal dengan kata “peduli’. Seiring perjalanan waktu, ternyata  peduli saja tidak cukup. Solusi atas sejumlah persoalan masyarakat dan juga keumatan serta bangsa tidak cukup dengan hanya membangun kepedulian. Masyarakat butuh lebih dari sekedar peduli. Sementara secara internal, dengan semakin luasnya jejaring serta rentang organisasi PKPU, kita juga membutuhkan satu kesatuan langkah dalam membantu proses pencarian solusi atas sejumlah persoalan yang terjadi. 

Salah satu contoh yang amat transparan adalah bila kita mencermati kasus aktivitas PKPU di Merapi. Di tengah amat minimnya publikasi (iklan atau promosi) yang PKPU lakukan, ternyata PKPU cukup leading di dalam penanganan kasus bencana erupsi Merapi. Bukan saja informasi yang demikian banyak masuk ke sejumlah media lokal maupun nasional, bahkan brand PKPU-pun dengan amat leluasa memenuhi sejumlah headline media nasional. Ini semua tanpa biaya, tanpa ada rekayasa media. Dari peristiwa ini, dapat kita jadikan sebuah pelajaran yang amat penting, bahwa ternyata hal itu tidak bisa tiba-tiba terjadi. Peristiwa tadi, tidak lain bermula dari kedekatan, yang selanjutnya melahirkan sinergi antara PKPU (dalam hal ini direpresentasikan oleh relawan kita di lapangan) dengan sejumlah pihak yang menjadi garda depan penanganan bencana seperti BMG, Badan Pusat kegunungapian, Kopasus, Brimob serta sejumlah elemen utama masyarakat yang ada di sekitar lokasi posko PKPU selama menangani kesulitan warga lereng Merapi. Kita menyadari tanpa adanya sinergi yang baik, sulit rasanya PKPU bisa menempati posisi tadi. 

Dari kasus di Merapi inilah, kita bisa berkaca dan sekaligus belajar banyak. Saat yang sama, kita juga bersyukur, bahwa momentum Merapi laksana momentum emas bagi PKPU sebagai sebuah organisasi.  Dengan peristiwa ini PKPU berkeyakinan bahwa Allah memang memberikan kesempatan pada organisasi ini untuk terus memperbaiki langkah dan meningkatkan apa yang telah ada selama ini. Dengan hikmah yang ada di Merapi pula, PKPU ke depan harus bisa bersinergi dengan sebanyak mungkin kalangan. Ini bukan saja akan membangun networking yang luas, namun lebih pada keinginan besar untuk bisa meningkatkan kemanfaatan bagi umat dan bangsa. Dengan bersinergi, sejumlah persoalan akibat adanya kekurangan dan keterbatasan bisa saling tertutupi. Dengan sinergi, beban persoalan umat akan lebih mudah dihadapi. 

Bagian kedua dari tagline PKPU di usianya yang kesebelas ini adalah kata : “mengabdi”. Kata ini walau amat sederhana, ternyata mengandung makna yang juga dalam. Kata “mengabdi” berasal kata dasar “abdi”, yang berarti “penghambaan”. Kata ini seakan inline dengan kata “sinergi” sebelumnya yang bermakna menyatukan kapasitas diri. Kata “mengabdi” juga menjadi sebuah kata kunci yang amat penting dalam membangun langkah sinergi. Tak akan mungkin seseorang atau sebuah lembaga berperan di tengah problema yang ada jika tanpa memiliki nilai dan dasar pengabdian. Mengabdi menjadi landasan dari seluruh rangkaian kerja-kerja yang dilakukan PKPU sesulit apapun. Dengan dasar pengabdian, akan memunculkan loyalitas dan cinta dalam melakukan apa saja kerja-kerja di lapangan dalam mencapai visi, misi serta tujuan lembaga.

Dengan dasar pengabdian, sinergi yang terus akan di dorong akan semakin kokoh dan kuat. Selain itu, sinergi yang didirikan di atas pondasi pengabdian akan melahirkan sikap yang tawadhu, tanpa saling menonjolkan diri atau merasa lebih hebat satu dengan yang lain. Dengan sinergi yang dilandasi pengabdian pula, ketahanan terhadap tekanan masalah yang muncul akan semakin tinggi. 

Kenapa juga kata mengabdi ini perlu kita tekankan, tidak lain dan tidak bukan untuk mengingatkan pada kita semua bahwa dengan dasar pengabdian yag tertanam kuat dalam diri masing-masing SDM yang ada di PKPU, kita akan mampu mengawal perkembangan dan pertumbuhan lembaga PKPU.

Perlu kita sadari bersama, bahwa pertumbuhan dan perkembangan PKPU kini amat luar biasa. Di banding di fase awal lembaga, yang hanya diisi beberapa orang saja, saat ini PKPU sudah memiliki lebih 400 orang karyawan. Di luar itu, lembaga ini juga ternyata memiliki lebih dari 2500 relawan yang tersebar dari Aceh hingga maluku. Belum lagi asset lembaga, kini yang terjadi bukan lagi sulit memiliki kendaraan, yang ada malah di kantor PKPU, kini sulit justeru untuk parkir. Ini menunjukan secara volume PKPU terus tumbuh.

Dalam perkembangannya, kita juga harus mulai berpikir panjang. Bahwa perkembangan Lembaga ini haruslah tetap seiring dengan perkembangan mentalitas serta nilai-nilai esensin yang ada di seluruh jajaran SDM-nya. Jangan sampai pertumbuhan lembaga yang terjadi, justeru mengubah kultur dan perilaku SDM yang ada di dalam organisasi PKPU. Jangan sampai pula secara internal PKPU malah mengalami perubahan orientasi dan tujuan esensi lembaga ini.

Dengan menyandingkan Sinergi-Mengabdi, kita semua ingin agar PKPU terus berkembang lebih baik dan mampu mewujudkan dua dimensi sekaligus. Dimensi keduniawi-an, dan dimensi akhirat. Dua-duanya kita akan jadikan sebagai landasan dari seluruh dinamika dan proses internal yang terjadi di PKPU. Akan percuma rasanya, bila kebesaran dan peningkatan PKPU justeru menjauhkan semangan pengabdian pada-Nya. PKPU lahir, besar dan akan terus meningkat besar dengan secara seimbang dan proporsional di tengah kesediaan untuk bersinergi dan berlandaskan semangat pengabdian.

Bila Sinergi-Mengabdi ini benar-benar mampu ter-implementasi dengan baik, bukan tidak mungkin keberkahan Allah dan sekaligus kemudahan dalam menjalani seluruh aktivitas di PKPU akan terwujud. Dengan seimbangnya dua hal tadi, mudah-mudahan pula segala rintangan dan kesulitan justeru menjadi tantangan untuk dilewati. 

Dengan kekuataan penghambaan yang ikhlas, diharapkan kita mampu mengasah pribadi-pribadi yang ada di PKPU sebagai pribadi yang unggul dalam menopang daya dukung serta kemajuan PKPU di masa yang akan datang. Dengan semangat pengabdian yang kuat, kita akan terus mendorong lembaga ini tumbuh secara baik. Saat yang sama, kita juga harus terus memupuk semangat pengabdian ini secara terus menerus. Kita harus yakin bahwa ketika kita mengabdi pada Allah Yang Maha Pengasih, maka pasti kita akan di kasih. Ketika kita meminta pada Allah Yang Maha Pemberi, kita pasti akan diberi oleh-Nya.

Dari uraian tadi, ketika kita baru saja akan memulai hal tersebut, ternyata Allah SWT menguji kita dengan sebuah busyro (kabar gembira). Allah memberikan peluang besar pada PKPU lewat perantaraan seorang calon donatur yang akan mempercayakan dananya sejumlah 250 juta US Dollar. Dan yang luar biasanya, ternyata calon donatur kita ini, mengaku telah mengamati PKPU selama 5 tahun. Ia dengan sejumlah aktivitas PKPU telah cukup yakin bahwa PKPU akan mampu menjaga amanah dan kepercayaan yang dibebankan padanya.

Ke depan sejumlah rencana sedang disiapkan, salah satu yang sedang disiapkan adalah pembangunan sebuah RS atau medical center yang mampu diakses dengan mudah oleh para dhua’afa yang membutuhkan. Walau pada awalnya kita secara organisasi kurang percaya bagaimana bisa mendapatkan angka 2,5 Triliun.

Mudah-mudahan ini semua menjadi bagian dari tanda-tanda bagaimana Allah pada akhirnya membalas kerja keras, kesungguhan serta kesabaran kita. Insyaallah dengan “sinergi-mengabdi”  yang kita bangun, Allah akan tingkatkan rasa persaudaraan diantara kita. Saat yang sama kita berdo’a pada Allah SWT, agar seiring semangat sinergi-mengabdi yang kita akan lakukan, Allah juga menghilangkan ghill di dada kita, sehingga seluruh himpunan potensi sumberdaya dan sumberdana kita mampu menjadi sebuah bangunan amal terbaik bagi kita semua. Dan di akhirat nanti, saat semua bersaksi di hadapan-Nya, mudah-mudahan makhluk dan benda ciptaan Alllah yang selama ini kita kelola di PKPU akan menjadi saksi yang meringankan, bahkan membantu kita menggapai kenikmatan surga-Nya. Amien.

(Tulisan ini ditulis oleh Nana Sudiana dari Pemaparan secara lisan Pa Agung Notowiguno (dirut PKPU) & Pa Wildhan Dewayana (Direktur Penghimpunan PKPU) di rangkaian acara Salam Pagi, Senin, 13 Desember 2010 di Ruang Salam Pagi Kantor PKPU Pusat di Condet, Jakarta Timur).

Karakter Kepemimpinan Vs Ambisi Kekuasaan

Suatu ketika ada seorang pemimpin yang tersinggung dengan ulah salah satu anak buahnya, ia sambil bertolak pinggang dan dengan tangan menunjuk-nunjuk serta mimik terlihat amat marah berkata dengan lantang : “lu jangan macam-macam ya di sini, akan gue buat lu sengsara. Lu juga akan gue buat kelaparan bila target lu tidak terselesaikan !”.

***

Pemimpin bukanlah dewa, apalagi seorang Tuhan. Anak buah bisa benar, bisa juga salah demikian pula para pemimpin. Pemimpin sesungguhnya secara sederhana berkaitan dengan mandat atau amanah. Sampai kapan mandat ini akan berlaku, sampai disitulah kepemimpinan akan berlangsung. Dan pemimpin apapun, dimanapun dan dalam kondisi bagaimanapun, masalah kepemimpinan amat berhubungan dengan persoalan karakter. Kepemimpinan juga bisa lama atau sebentar, tergantung pemberi mandat dan yang punya kewenangan. Selain tentunya berkaitan dengan takdir dan suratan Tuhan.

Kembali ke soal karakter tadi, ternyata seorang pemimpin yang baik menurut sejumlah survey yang dilakukan memiliki persyaratan yang tidak sedikit. Di sejumlah survey yang ada digambarkan bahwa pemimpin yang ideal, yang nantinya akan meningkat menjadi pemimpin kharismatik adalah orang yang memiliki : kejujuran, bertanggungjawab, memberi inspirasi, rendah hati, berani, suka menolong, peduli, teliti, cermat, kreatif, cerdas, tenang dan sebagainya. Intinya perimpin adalah laksana malaikat yang turun ke bumi. Ia dipandang harus memiliki sejumlah kombinasi sifat yang baik. Di luar itu, dalam konteks tarbiyah (pendidikan Islam), pemimpin dipandang haruslah memiliki 4 karakter utama, yakni : sebagai pembimbing spiritual (syaikh), sebagai guru, sebagai orang tua dan sebagai teman (sahabat). Dari sejumlah penjelasan yang ada, ternyata tidak mudah menjadi pemimpin yang baik. Apalagi pemimpin kharismatik.   

***

Max Weber, seorang sosiologi adalah ilmuwan pertama yang membahas kepemimpinan kharismatik. Yang mendefinisikan karisma (yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “anugerah”) sebagai suatu sifat tertentu dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan biasanya dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural, manusia super, atau paling tidak punya daya istimewa. Weber berpendapat bahwa kepemimpinan karismatik merupakan salah satu jenis otoritas yang ideal.

Peneliti pertama yang membahas kepemimpinan karismatik dalam kaitannya dengan Perilaku Organisasi adalah Robert House. Menurut teori kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership theory) House, para pengikut memandang sebagai sikap heroik atau kepemimpinan yang luar biasa saat mengamati perilaku tertentu. Sudah ada beberapa studi yang berusaha mengidentifikasi karakteristik-karakteristik dari pemimpin yang karismatik. Salah satu telaah literature yang paling bagus menunjukkan adanya empat karakteristik yaitu, (1) visi dan artikulasi. Memilki visi, yang dinyatakan sebagai tujuan ideal, yang menganggap bahwa masa depan lebih baik daripada status quo; dan mampu mengklarifikasi pentingnya visi yang bisa dipahami orang lain. (2) risiko pribadi. Bersedia mengambil risiko pribadi yang tinggi, mengeluarkan biaya besar, dan berkorban untuk mencapai visi tersebut. (3) sensitif, dengan kebutuhan bawahan. Menerima kemampuan orang lain dan bertanggung jawab atas kebutuhan serta perasaan mereka. (4) perilaku yang tidak konvensional. Memilki perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan kebiasaan.

Pemimpin yang karismatik cenderung bersifat terbuka, percaya diri, dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai hasil. Meskipun beberapa orang beranggapan bahwa kharisma merupakan anugerah dan karenanya tidak bisa dipelajari, sebagian besar ahli percaya seseorang juga bisa dilatih untuk menampilkan perilaku yang kharismatik dan mendapat manfaat dari menjadi seseorang pemimpin yang kharismatik. Lagi pula, hanya karena kita mewarisi kecenderungan-kecerendungan tertentu, tidak berarti kita tidak dapat berubah. Beberapa orang pengarang mengatakan bahwa seseorang bisa belajar menjadi kharismatik dengan mengikuti proses yang terdiri atas tiga tahap.

Pertama, seseorang perlu mengembangkan aura kharisma dengan cara mempertahankan cara pandang yang optimis; menggunakan kesabaran sebagai katalis untuk menghasilkan antusiasme; dan berkomunikasi dengan keseluruhan tubuh, bukan cuma dengan kata-kata. Kedua, seseorang menarik orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang menginspirasi orang lain tersebut untuk mengikutinya. Ketiga, seseorang menyebarkan potensi kepada para pengikutnya dengan cara menyentuh emosi mereka.

Visi (vision) adalah strategi jangka panjang untuk mencapai tujuan atau serangkaian tujuan. Visi ini menberikan nuansa kontinuitas bagi para pengikut dengan cara menghubungkan keadaan saat ini dengan masa depan yang lebih baik bagi organisasi. Sebagai contoh, di Apple. Steve Jobs, pemimpin karismatik Apple Computer, menginvestasi perusahaan dengan cara menemukan pangsa pasar yang baru untuk alat music digital iPod. Visi Jobs adalah menciptakan alat pemutar musik yang bisa dibawa kemana pun dan dapat menyimpan data. Yakin dengan inovasi yang dilakukannya, Jobs telah menginspirasi timnya untuk merancang dan mengembangkan iPod dalam waktu kurang dari setahun. Sejak peluncuran iPod, Apple telah menjual lebih dari 10 juta alat pemutar music yang menambah $6,2 miliar ke pendapatan Apple.

Sebuah visi belumlah lengkap tanpa adanya pernyataan visi (vision statement), yaitu pernyataan formal visi atau misi organisasi. Pemimpin yang karismatik bisa menggunakan pernyataan visi untuk menanamkan tujuan dan sasaran ke benak para pengikutnya. PepsiCo, misalnya memilki pernyataan misi berikut ini dalam situs Web-nya : “untuk menghasilkan produk konsumen utama di dunia, perusahaan berfokus pada makanan dan minuman yang tepat, dan setiap hal yang kami lakukan, kami berjuang untuk tetap jujur, adil, dan penuh integritas”.

***

Kembali ke soal kepemimpinan, ternyata seorang pemimpin bukan hanya harus mampu, mau serta memiliki strategi. Ia juga harus amat baik terhadap dirinya serta orang lain. Termasuk pula pada anak buah atau staffnya masing-masing. Semakin baik seorang pemimpin, berarti semakin ia mengerti tentang makna dan arti kepemimpinan. Sebailknya semakin seorang pemimpin berbuat sewenang-wenang, sesungguhnya ia sedang mengarah pada kehancuran kepemimpinannya. Kepeminpinan itu tidak bisa berdirin sendiri dari fitrah yang dimiliki oleh jiwa setiap manusia. Semakin ia mendekati fitrah, semakin positif daya dukung lingkungan terhadap dirinya. Dan semakin ia bertolakbelakang dari fitrah, maka semakin cepat kepemimpinannya akan berakhir.

Kepemimpinan yang lahir dari amanah, kemudian diisi dengan kesewenang-wenangan, bukan saja akan melahirkan keputusasaan bagi yang dipimpin, malah saat yang sama akan membuat amat capek pemimpin itu sendiri. Ia harus bertangan besi untuk bisa meredam ketidakpuasan dan keguncangan batin dari barisan sakit hati yang tanpa sengaja muncul dan terus tumbuh. Kepemimpinan yang tidak dilandasi fitrah hanya akan memancing sejumlah ketidakefektifan dan kecemasan yang terus membayangi sebuah organisasi.

Jadi, memang tidak mudah menjadi pemimpin yang ideal. Amat banyak persyaratan dan kapasitas yang harus dipenuhi. Apalagi jika kita memaksakan diri untuk menerima amanah tersebut. Pemimpin yang lahir dari ketidakmampuan hanya akan melahirkan seorang pemimpin yang penuh ambisi. Meredam setiap perbedaan dengan otoritas dan kewenangan.

Lebih baik bagi kita saat ini, menjadi orang biasa dengan sifat-sifat kepemimpinan yang terus secara perlahan kita tumbuhkan. Kepemimpinan pada hakikatnya masalah waktu saja, bila seluruh ikhtiar kita memperbaiki diri telah terselesaikan dengan baik. Kepemimpinan tak perlu diperbutkan, tokh ia telah memiliki semacam “garis pasti” siapa yang jadi pemimpin dan siapa yang tidak. Bagi kita kepemimpinan harus diyakini sebagai sebuah amanah, bukan sebuah kekuasaan semata. Dengan logika ini, kita akan tetap tenang….setenang telaga di rerimbunan pohon-pohon yang hijau. Kita tidak perlu mengharap dan berpikir kapan akan jadi pemimpin…..yang harus kita lakukan kini adalah berusahalah dengan keseluruhan diri kita, dalam aspek manusiawi (ikhtiar) dengan dibarengi aspek ruhiyah. Perbaiki terus diri kita, sehingga bila kita telah menjadi orang terbaik yang ada, dengan sendirinya kita akan didatangi oleh amanah kepemimpinan yang ada.

Jangan pernah berharap matahari akan menunduk pada kita di siang hari,
Berusahalah dengan gigih agar kita jadi matahari bagi dunia, menerangi kegalauan, menghangatkan kesedihan dan kepiluan, serta memberi cahaya bagi jiwa-jiwa yang lupa.

Jangan pula kita berharap menikmati untaian lembut mawar nan mewangi,
Bila kekerdilan hati muncul dan tak berani melewati duri-duri yang mengelilingi mawar yang indah.

Bila masih sulit juga, maka jadilah rembulan bagi jelaga yang menutupi kegembiraan banyak orang. Buatlah tersenyum orang-orang terdekat kita dengan kebaikan-kebaikan kecil yang terus kita sebarkan. Jadilah pelita bagi anak-anak kita, isteri dan keluarga kita dari kegelapan jaman yang datang menimpa. Bila itu pun tidak pula bisa kita lakukan. Maka selamat jalan duhai jiwa, engkau telah mati sebelum kematian sesungguhnya datang menjelang. Innalilahi wa innailahi roji’un.

Wallahu’alam bishowwab,

Condet Menjelang Fajar,
Jum’at, 14 Januari 2011

Nana sudiana       


(Tulisan ini diinsiprasin dari Workshop “Self Awarenes” kemarin, Selasa, 12 Januari 2011 di Griya Alam Ciganjur, Depok Baru).