Kamis, 10 Februari 2011

Karakter Kepemimpinan Vs Ambisi Kekuasaan

Suatu ketika ada seorang pemimpin yang tersinggung dengan ulah salah satu anak buahnya, ia sambil bertolak pinggang dan dengan tangan menunjuk-nunjuk serta mimik terlihat amat marah berkata dengan lantang : “lu jangan macam-macam ya di sini, akan gue buat lu sengsara. Lu juga akan gue buat kelaparan bila target lu tidak terselesaikan !”.

***

Pemimpin bukanlah dewa, apalagi seorang Tuhan. Anak buah bisa benar, bisa juga salah demikian pula para pemimpin. Pemimpin sesungguhnya secara sederhana berkaitan dengan mandat atau amanah. Sampai kapan mandat ini akan berlaku, sampai disitulah kepemimpinan akan berlangsung. Dan pemimpin apapun, dimanapun dan dalam kondisi bagaimanapun, masalah kepemimpinan amat berhubungan dengan persoalan karakter. Kepemimpinan juga bisa lama atau sebentar, tergantung pemberi mandat dan yang punya kewenangan. Selain tentunya berkaitan dengan takdir dan suratan Tuhan.

Kembali ke soal karakter tadi, ternyata seorang pemimpin yang baik menurut sejumlah survey yang dilakukan memiliki persyaratan yang tidak sedikit. Di sejumlah survey yang ada digambarkan bahwa pemimpin yang ideal, yang nantinya akan meningkat menjadi pemimpin kharismatik adalah orang yang memiliki : kejujuran, bertanggungjawab, memberi inspirasi, rendah hati, berani, suka menolong, peduli, teliti, cermat, kreatif, cerdas, tenang dan sebagainya. Intinya perimpin adalah laksana malaikat yang turun ke bumi. Ia dipandang harus memiliki sejumlah kombinasi sifat yang baik. Di luar itu, dalam konteks tarbiyah (pendidikan Islam), pemimpin dipandang haruslah memiliki 4 karakter utama, yakni : sebagai pembimbing spiritual (syaikh), sebagai guru, sebagai orang tua dan sebagai teman (sahabat). Dari sejumlah penjelasan yang ada, ternyata tidak mudah menjadi pemimpin yang baik. Apalagi pemimpin kharismatik.   

***

Max Weber, seorang sosiologi adalah ilmuwan pertama yang membahas kepemimpinan kharismatik. Yang mendefinisikan karisma (yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “anugerah”) sebagai suatu sifat tertentu dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan biasanya dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural, manusia super, atau paling tidak punya daya istimewa. Weber berpendapat bahwa kepemimpinan karismatik merupakan salah satu jenis otoritas yang ideal.

Peneliti pertama yang membahas kepemimpinan karismatik dalam kaitannya dengan Perilaku Organisasi adalah Robert House. Menurut teori kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership theory) House, para pengikut memandang sebagai sikap heroik atau kepemimpinan yang luar biasa saat mengamati perilaku tertentu. Sudah ada beberapa studi yang berusaha mengidentifikasi karakteristik-karakteristik dari pemimpin yang karismatik. Salah satu telaah literature yang paling bagus menunjukkan adanya empat karakteristik yaitu, (1) visi dan artikulasi. Memilki visi, yang dinyatakan sebagai tujuan ideal, yang menganggap bahwa masa depan lebih baik daripada status quo; dan mampu mengklarifikasi pentingnya visi yang bisa dipahami orang lain. (2) risiko pribadi. Bersedia mengambil risiko pribadi yang tinggi, mengeluarkan biaya besar, dan berkorban untuk mencapai visi tersebut. (3) sensitif, dengan kebutuhan bawahan. Menerima kemampuan orang lain dan bertanggung jawab atas kebutuhan serta perasaan mereka. (4) perilaku yang tidak konvensional. Memilki perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan kebiasaan.

Pemimpin yang karismatik cenderung bersifat terbuka, percaya diri, dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai hasil. Meskipun beberapa orang beranggapan bahwa kharisma merupakan anugerah dan karenanya tidak bisa dipelajari, sebagian besar ahli percaya seseorang juga bisa dilatih untuk menampilkan perilaku yang kharismatik dan mendapat manfaat dari menjadi seseorang pemimpin yang kharismatik. Lagi pula, hanya karena kita mewarisi kecenderungan-kecerendungan tertentu, tidak berarti kita tidak dapat berubah. Beberapa orang pengarang mengatakan bahwa seseorang bisa belajar menjadi kharismatik dengan mengikuti proses yang terdiri atas tiga tahap.

Pertama, seseorang perlu mengembangkan aura kharisma dengan cara mempertahankan cara pandang yang optimis; menggunakan kesabaran sebagai katalis untuk menghasilkan antusiasme; dan berkomunikasi dengan keseluruhan tubuh, bukan cuma dengan kata-kata. Kedua, seseorang menarik orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang menginspirasi orang lain tersebut untuk mengikutinya. Ketiga, seseorang menyebarkan potensi kepada para pengikutnya dengan cara menyentuh emosi mereka.

Visi (vision) adalah strategi jangka panjang untuk mencapai tujuan atau serangkaian tujuan. Visi ini menberikan nuansa kontinuitas bagi para pengikut dengan cara menghubungkan keadaan saat ini dengan masa depan yang lebih baik bagi organisasi. Sebagai contoh, di Apple. Steve Jobs, pemimpin karismatik Apple Computer, menginvestasi perusahaan dengan cara menemukan pangsa pasar yang baru untuk alat music digital iPod. Visi Jobs adalah menciptakan alat pemutar musik yang bisa dibawa kemana pun dan dapat menyimpan data. Yakin dengan inovasi yang dilakukannya, Jobs telah menginspirasi timnya untuk merancang dan mengembangkan iPod dalam waktu kurang dari setahun. Sejak peluncuran iPod, Apple telah menjual lebih dari 10 juta alat pemutar music yang menambah $6,2 miliar ke pendapatan Apple.

Sebuah visi belumlah lengkap tanpa adanya pernyataan visi (vision statement), yaitu pernyataan formal visi atau misi organisasi. Pemimpin yang karismatik bisa menggunakan pernyataan visi untuk menanamkan tujuan dan sasaran ke benak para pengikutnya. PepsiCo, misalnya memilki pernyataan misi berikut ini dalam situs Web-nya : “untuk menghasilkan produk konsumen utama di dunia, perusahaan berfokus pada makanan dan minuman yang tepat, dan setiap hal yang kami lakukan, kami berjuang untuk tetap jujur, adil, dan penuh integritas”.

***

Kembali ke soal kepemimpinan, ternyata seorang pemimpin bukan hanya harus mampu, mau serta memiliki strategi. Ia juga harus amat baik terhadap dirinya serta orang lain. Termasuk pula pada anak buah atau staffnya masing-masing. Semakin baik seorang pemimpin, berarti semakin ia mengerti tentang makna dan arti kepemimpinan. Sebailknya semakin seorang pemimpin berbuat sewenang-wenang, sesungguhnya ia sedang mengarah pada kehancuran kepemimpinannya. Kepeminpinan itu tidak bisa berdirin sendiri dari fitrah yang dimiliki oleh jiwa setiap manusia. Semakin ia mendekati fitrah, semakin positif daya dukung lingkungan terhadap dirinya. Dan semakin ia bertolakbelakang dari fitrah, maka semakin cepat kepemimpinannya akan berakhir.

Kepemimpinan yang lahir dari amanah, kemudian diisi dengan kesewenang-wenangan, bukan saja akan melahirkan keputusasaan bagi yang dipimpin, malah saat yang sama akan membuat amat capek pemimpin itu sendiri. Ia harus bertangan besi untuk bisa meredam ketidakpuasan dan keguncangan batin dari barisan sakit hati yang tanpa sengaja muncul dan terus tumbuh. Kepemimpinan yang tidak dilandasi fitrah hanya akan memancing sejumlah ketidakefektifan dan kecemasan yang terus membayangi sebuah organisasi.

Jadi, memang tidak mudah menjadi pemimpin yang ideal. Amat banyak persyaratan dan kapasitas yang harus dipenuhi. Apalagi jika kita memaksakan diri untuk menerima amanah tersebut. Pemimpin yang lahir dari ketidakmampuan hanya akan melahirkan seorang pemimpin yang penuh ambisi. Meredam setiap perbedaan dengan otoritas dan kewenangan.

Lebih baik bagi kita saat ini, menjadi orang biasa dengan sifat-sifat kepemimpinan yang terus secara perlahan kita tumbuhkan. Kepemimpinan pada hakikatnya masalah waktu saja, bila seluruh ikhtiar kita memperbaiki diri telah terselesaikan dengan baik. Kepemimpinan tak perlu diperbutkan, tokh ia telah memiliki semacam “garis pasti” siapa yang jadi pemimpin dan siapa yang tidak. Bagi kita kepemimpinan harus diyakini sebagai sebuah amanah, bukan sebuah kekuasaan semata. Dengan logika ini, kita akan tetap tenang….setenang telaga di rerimbunan pohon-pohon yang hijau. Kita tidak perlu mengharap dan berpikir kapan akan jadi pemimpin…..yang harus kita lakukan kini adalah berusahalah dengan keseluruhan diri kita, dalam aspek manusiawi (ikhtiar) dengan dibarengi aspek ruhiyah. Perbaiki terus diri kita, sehingga bila kita telah menjadi orang terbaik yang ada, dengan sendirinya kita akan didatangi oleh amanah kepemimpinan yang ada.

Jangan pernah berharap matahari akan menunduk pada kita di siang hari,
Berusahalah dengan gigih agar kita jadi matahari bagi dunia, menerangi kegalauan, menghangatkan kesedihan dan kepiluan, serta memberi cahaya bagi jiwa-jiwa yang lupa.

Jangan pula kita berharap menikmati untaian lembut mawar nan mewangi,
Bila kekerdilan hati muncul dan tak berani melewati duri-duri yang mengelilingi mawar yang indah.

Bila masih sulit juga, maka jadilah rembulan bagi jelaga yang menutupi kegembiraan banyak orang. Buatlah tersenyum orang-orang terdekat kita dengan kebaikan-kebaikan kecil yang terus kita sebarkan. Jadilah pelita bagi anak-anak kita, isteri dan keluarga kita dari kegelapan jaman yang datang menimpa. Bila itu pun tidak pula bisa kita lakukan. Maka selamat jalan duhai jiwa, engkau telah mati sebelum kematian sesungguhnya datang menjelang. Innalilahi wa innailahi roji’un.

Wallahu’alam bishowwab,

Condet Menjelang Fajar,
Jum’at, 14 Januari 2011

Nana sudiana       


(Tulisan ini diinsiprasin dari Workshop “Self Awarenes” kemarin, Selasa, 12 Januari 2011 di Griya Alam Ciganjur, Depok Baru).

Kompas Kehidupan Vs Kepasrahan



Bila suatu ketika anda sedang dalam perjalanan dengan mobil anda, dan saat mobil melalui jalan menurun, tiba-tiba rem mobil tidak bisa dikendalikan. Sekonyong-konyong mobil anda meluncur bersama Anda. Apa yang akan anda pilih saat itu?

Berdiam diri dan pasrah, hingga mobil anda terguling bersama anda di dalamnya. Atau anda memilih melompat keluar mobil dengan resiko anda membentur aspal atau pembatas jalan?. Kedua pilihan ini memang memiliki sama-sama memiliki resiko. Resiko semakin besar manakala mobil yang anda kendarai semakin besar dan semakin banyak jumlah penumpangnya. Kalau hanya sendiri, barangkali begitu buka pintu mobil, anda bisa langsung melompat, berbeda saat ada anak isteri anda atau orang lain yang ada dalam mobil. Persoalan ini menjadi semakin pelik  manakala kecuraman jalan semakin tajam serta kepadatan jalan yang dilalui semakin tinggi.

Kalau mobil yang meluncur tadi kita ibaratkan sebuah organisasi, terlihat betapa organisasi yang sedang jatuh-pun ternyata tidak lepas di dera masalah. Kondisinya malah cenderung jauh lebih sulit dan kompleks. Masalah yang ada bukan hanya melibatkan tata aturan penyelesaian organisasi yang baik, namun juga sudah melibatkan aspek emosi dan perasaan. Maka wajar, umumnya di tengah-tengah organisasi yang sedang mengalami banyak masalah, saling ketidakpercayaan merebak luas. Di luar itu muncul dan berkembang pula sensitivitas konflik yang tinggi. Maka wajar di sejumlah akhir dari kebangkrutan corporate atau sebuah organissai, kadang berbuntut konflik terbuka hingga kerusuhan.

Hidup manusia, bila kita cermati lebih dalam, sesungguhnya telah memiliki kebaikan dalam dirinya. Kebaikan ini muncul baik ia secara sendirian maupun saat ia berada dalam sebuah organisasi. Dan nilai-nilai kebaikan ini melekat sejak alam rahim sampai manusia mati. Nilai-nilai dasar inilah yang di-instal Allah sebagai bagian dari sifat-sifat serta nama-nama Allah (asmaul husna) yang Mulia. Nilai-nilai ini laksana kompas bagi kehidupan manusia. Ia melekat erat dibagian terdalam seorang manusia, yakni perasaan. Kemanapun manusia pergi, dimanapun dan dalam kondisi apapun nilai-nilai dasar kebaikan laksana kompas kehidupan seorang manusia. Ia akan memandu setiap langkah dan aktivitas apa saja yang dilakukan, bahkan tidak hanya saat manusia berada dalam kondisi sadar. Kompas kehidupan ini juga muncul bahkan hingga alam mimpi hingga dunia bawah sadar seseorang.

Dengan kompas kehidupan yang secara fitrah adalah suci dan cenderung selalu pada kebaikan, seharusnya kita akan terhindar dari keraguan yang bisa menyesatkan arah langkah yang kita tempuh. Dan kompas ini sendiri memang bukan barang mati, ia akan secara dinamis bergerak dipengaruhi logoka, pikiran dan perasaan yang ada dalam diri seseorang. Kompas kehidupan ini sendiri akan sangat efektif bila bisa bersanding dengan “petunjuk pemakaian” yang paling tepat, yakni Al Qur’an dan Sunnah. Dengan mensinkronkan kompas kehidupan kita dengan “buku petunjuk” yang ada, maka dipastikan bukan hanya kita akan terhindah dari ketersesatan, kita juga pasti akan lebih tenang menuju arah kehidupan. Semakin kita memahami kompas kehidupan dan penuntundari-Nya, kita juga akan terhindah dari dua sikap sekaligus, yakni ketergesaan dan kepasrahan berlebihan akan nasib dan suratan diri.

Kepasrahan memang dalam kadar tertentu akan membantu mengurangi tekanan jiwa. Melupakan seluruh gejolak dan meredam ambisi. Namun kepasrahan yang taidak terukur dan dalam kadar yang berlebihan dapat mendorong kita jurang pesimisme. Bila itu terjadi, semangat bergerak, bertindak terbaik bagi umat dan bangsa serta berani menghadapi resiko dan kegagalan akan sulit untuk bisa tumbuh dan berkembang. Dengan kepasrahan yang berlebihan, bisa jadi kita hanya akan menjadi orang yang dengan enteng menyikapi segala sesuatu dengan konsepsi  nrimo ing pandum” (menerima apapun yang terjadi). Semangat ini bukan salah, namun dalam konteks kompetisi organisasi bukan termasuk karakter pemenang. Konsep tadi, hanya akan membawa roda organisasi tidak bergerak. Hanya akan tetap dalam kondisi yang sama bertahun-tahun kemudian.

Bila kepasrahan benar-benar menghinggapi sebagian, bahkan mayoritas karyawan sebuah corporate atau organisasi, dipastikan secara perlahan akan terjadi internal decay (pembusukan  dari dalam). Motivasi orang yang ada akan sangat rendah karena tidak dimilikinya tantangan di masa yang akan datang. Kondisi ini selain akan membusukan secara perlahan seluruh sendi-sendi organisasi, ia juga saat yang sama akan menumbuhkan rasa bosan dan jenuh. Orang-orang bekerja tanpa gairah menatap masa depan. Dan yakinlah, bila ini terjadi, orang-orang terbaik yang dimiliki secara perlahan akan hengkang dan berpamitan pergi, satu demi satu. Bagi yang berpikir cerdas, apa enaknya bergabung dengan sebuah coropate atau organisasi yang hidupnya laksana zombie,  berjalan dan bergerak tanpa hati.     

Jadi dengan kompas kehidupan yang terasah dan terus diperbaiki, kita laksana memiliki radar secara otomatis. Implikasinya nkemudian, radar ini akan memilah dalam setiap kesempatan, mana yang mmemilki frekuensi yang sama dengan kita dan mana yang tidak. Radar ini juga akan sedikit banyak mempertemukan kita dengan yang paling sesuai dengan organisasi kita saat kita sedang melakukan rekrutmen karyawan baru. Orang boleh jadi cukup cerdas secara akademis, namun belum tentu akan sesuai untuk membantu organisasi kita saat ini. Dengan “daya pancar” kompas kebaikan yang terjaga, kita dengan mudah pula akan langsung conecting dengan sejumlah pihak dan mitra saat kita akan membuka atau merawat jejaring serta kemitraan lembaga.

Dengan kompas kebaikan yang terus terpelihara dengan baik, lewat amalan-amalan yaumiyah kita, maka bisa jadi konsultan yang kita sewa kemudian akan tercengang. Bisa jadi pemikiran, ide dan gagasan kita jauh melampaui apa yang dibayangkan oleh orang lain di sekitar kita. Ini sekali lagi bukan masalah keajaiban, namun masalah kedekatan. Siapa yang lebih dekat dengan pemilik kompas kehidupan, ia layak mendapatkan kompensasi yang nyata dan pasti. Baik saat hidup (di dunia) bahkan saat ia berada di alam kematian (alam kubur dan akhirat). Bukankah Allah SWT, selaku pemilik kompas kehidupan ini bersabda : “ Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allahn beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS Al-‘Ankabut (29) : 69).

Wallahu’alam bishowwab.

Condet, Menjelang fajar
Jum’at, 14 Januari 2011


Nana Sudiana

Impian Vs Kenyataan


Entah mengapa, seakan tiba-tiba saja ada jeda yang terjadi antara suplemen  # 1 sampai  # 4 dengan suplemen # 5 sampai  #7. Sebenarnya sebagian besar tulisan selanjutnya telah siap. Namun, seakan ada tabir yang memisahkan dua bagian besar ini. Suplemen satu sampai empat yang berbicara tentang  jaringan, adaptasi, melawan kebosanan dan menghadapi kegagalan, seakan terasa hidup dalam dua hari ini. Hal ini amat terasa ketika hampir seluruh masukan, usulan  dan komentar yang ada sebagian menyatakan punya kedekatan dengan isi tulisan yang ada. Di luar itu, sejak dua hari ini sejumlah perstiwa seolah terjadi sambung menyambung dalam bingkai masing-masing suplemen.

Sehari yang lalu, ada orang baru yang dengan terbuka bercerita dengan terus terang bahwa yang membuat penasaran dirinya dengan organisasi ini bukan masalah pendapatan yang akan ia terima. Ia hanya penasaran, bagaimana mungkin lembaga ini bisa terus hidup sementara masalah-masalah mendasar yang ada di dalamnya seolah berkelindan tak jelas ujungnya. Ia berkata  : “secara manusiawi, mestinya kondisi yang ada sudah chaos, tapi kok ini tidak ya. Kalau seperti ini, saya yakin ini lebih karena faktor keshalehan individunya. Buktinya tetap saja orang-orang yang ada masih bisa tetap hidup dan malah tertawa-tawa gembira”.

Degh, betulkah ucapannya? Betulkah bahwa seharusnya setelah melewati usia organisasi yang lebih dari satu darsawarsa kehidupan organisasi ini seharusnya sudah mencapai, minimal mendekati kemapanan dan kematangan dalam sikap maupun perilaku organisasinya. Termasuk di dalamnya orang-orangnya.  Sebagai orang baru, yakni baru sembilan tahun di lembaga, jelas saja saya tidak terima. Saya bilang : “Lembaga ini bukan tidak tumbuh, tapi memang proses pertumbuhan setiap lembaga berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya. Lembaga ini punya cara tersendiri untuk menunjukan dinamika dan pertumbuhannya”.

Sambil berkata begitu, sesungguhnya saya secara sadar berpikir, benarkah begitu. Apakah pernyataan saya bukan sebuah apologi. Sebuah upaya untuk membesarkan hati sendiri. Sebuah jalan menenangkan keresahan dan kegalauan akan realiitas yang kadang membuat cemas.

Saya bukan ahli organisasi, bukan pula orang yang banyak tahu logika manajemen  yang baik, apalagi konsultan lembaga. Cuma selama bertahun-tahun di sejumlah lembaga, rasanya memang ada sejumlah persoalan yang memang menjadi pe er bersama yang harus segera di kerjakan.

Dalam sebuah kesempatan, pernah ada sebuah pertanyaan diajukan pada para manajer yang ada. Sebenarnya yang kita butuhkan saat ini kemampuan, kemauan atau strategi. Ternyata sebagian besar memilih strategi. Dalam benak mereka, terbayang bahwa strategi laksana pil antibiotik yang membantu menyembuhkan sejumlah masalah yang muncul di hadapan.

Strategi diyakini bisa menjadi jalan keluar dari persoalan yang muncul dan berkembang. Benarkah pangkal dari “ketidaknyamanan” ini berasal dari tidak tepatnya strategi yang dijalankan. Benarkah strategi-lah elemen yang paling harus disalahkan saat target-target yang dicanangkan tidak berhasil dilalui.

Ternyata, setelah diskusi berjalan, tergambarlah sejumlah hal yang menunjukan bahwa persoalan yang ada bukan berpangkal pada strategi yang dilakukan, namun justeru pada kemauan. Ya kemauan untuk berubah dan untuk memperbaiki dari kita semua, ternyata masih belum begitu baik dan memuaskan.

Kita semua seringkali merasa senang jika sudah berhasil menemukan kelemahan dan kekurangan seorang teman. Apalagi kalau ia atasan kita. Rasanya laksana makan es kelapa muda di tengah panasnya matahari Jakarta yang memanggang. Yang kita lakukan, kadang memperlebar informasi ini. Selanjutnya mengembangkan dan memperluas pengetahuan ini hingga menyebar ke seluruh ruang-ruang yang ada.

Kita kadang senang melihat teman kita salah, apalagi atasan kita. Rasanya segala kekesalan dan ketidakmampuanpun sirna di hati ini. Dengan bersorak kita langsung berkata dengan girang : “nah lho, apa gue bilang, benerkan. Makanya jadi orang yang baik”.

Sadar tidak sich sebenarnya, kita justeru sedang mengalami “gangguan jiwa’ yang paling rendah. Merasa punya teman saat kita salah. Merasa tinggi hati ketika yang lain kena sanksi. Inilah potret kita hari ini.

Bagaimana mungkin kita bicara visi, bicara strategi ke depan. Padahal kenyataan justeru menunjukan kemauan kita sendirilah yang rendah. Kita menginginkan menggapai bulan, sementara kaki kita berlumpur hitam. Bukan rembulan indah yang kan tergapai. Salah-salah malah kita tergelincir dan jatuh di tanah.

Wallahu’alam bi showwab.

Condet Raya menjelang Isya,
Kamis, 13 Januari 2011

Nana Sudiana

Godaan Kemapanan

Dalam perjalanan kehidupan, kemapanan bukanlah hal aneh. Sepanjang memenuhi unsur-unsur dan syaratnya, siapapun, dalam profesi apapun sangat mungkin akan sdampai pada sebuah situasi yang bernama kenyamanan. Ya, situasi nyaman ini sendiri bisa berdimensi cukup luas, mulai dari aspek kedudukan, finansial serta fasilitas yang dinikmati.

Dibalik kemapanan, ternyata ada tiga godaan besar yang merongrong dan mengganggu kemapanan ini. Ketiga hal tersebut adalah :

1. Godaan mempertahankan kemapanan

Kemapanan cenderung melenakan. Banyak orang bersusah payah meraihnya, bahkan perlu jalan berliku dan waktu yang panjang untuk sampai pada sebuah kemapanan. Dan karena menyadari betapa sulitnya meraih kemapanan itu, banyak orang kemudian lupa diri. Menganggap bahwa kemapanan adalah abadi. Seakan kemapanan adalah milik sendiri. Tak peduli aturan apalagi moral dan nilai-nilai kebenaran.

Bagi yang sudah mapan, godaan untuk mempertahankan kemapanan itu amat besar. Selain karena telah terbuai sejumlah kemudahan dan kenikmatan, ternyata banyak orang mapan yang tidak siap berubah kembali menjadi tidak mapan. Jauh dari kemudahan, kenikmatan serta rasa hormat yang diberikan orang lain.

Dampak dari godaan ini secara ekstrem bisa berbahaya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk lingkungan sekitarnya. Secara personal, godaan ini bisa mendorong ke arah menghalalkan segala cara, asal kemapanan itu bisa dipertahankan. Secara lingkungan, orang mapan yang cenderung buta untuk terus mempertahankan kemapanannya akan dengan semena-mena terhadap orang lain. Sejumlah aturan akan diberlakukan dalam memagari kelanggengan kemapanannya. Siapapun yang berani mengusik, ia akan hadang, kalau perlu disingkirkan.

2. Godaan perempuan

Konteks perempuan ini sebenarnya mewakili dimensi lawan jenis. Bukan laki-laki saja yang akan tergoda perempuan bila sudah mapan. Perempuan pun memiliki peluang sama bila ia sudah mapan juga.

Ya, godaan terhadap lawan jenis akan sedemikian membesar saat seseorang mulai menapaki kemapanan dalam perjalanan kehidupannya. Sengaja atau tidak sengaja, kemapanan memang melahirkan magnet bagi lingkungan sekitarnya. Kemapanan juga laksana gula bagi kerumunan semut. Ia dengan sendirinya menarik perhatian dan mendorong siapapun untuk bisa ikut menikmatinya.

Sejarah panjang peradaban manusia membuktikan, betapa para ksatria, para raja, para pejabat dan pemimpin negara, menjadi rusak binasa gara-gara seoarang perempuan. Betapa juga orang-orang baik dan beradab, tiba-tiba juga jadi agresif dan seakan kehilangan akal, ternyata juga karena wanita.

Wajar jika kemudian banyak para empu tersohor di jaman kerajaan indonesia awal, mereka berpetuah pada para calon ksatria yang sedang mereka siapkan : "jauhilah wanita, jika engkau ingin menjadi ksatria dan raja utama, jika saat ini engkau tergoda, maka impianmu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka". Walau para ksatria dan raja ini akhirnya juga bergelimang dengan urusan wanita, setidaknya mereka merasa telah sampai pada masa dimana mereka "layak" pada ukuran dan masanya.

Kebesaran dan kemahsyuran seorang manusia memang tidak abadi, namun skandal karena perempuan, mampu membuat penurunan atau bahkan kehancuran kebesaran dan kemahsyuran seseorang dalam waktu yang amat singkat.

Jadi, siapapun yang kini menuju kemapanan, atau bahkan telah merasa nyaman dalam sebuah balutan kemapanan, hati-hati, dalam waktu cepat atau lambat godaan perempuan akan segera datang menjelang. Barang siapa selamat melewati godaan ini, maka ketidakmapanan atau bahkan kemapanan yang sedang dinikmati menjadi tak terguncang. Walau belum mapan, setidaknya badai persoalan ini berhasil dihindarinya dengan baik.

3. Godaan kemandegan

Dari dua godaan tadi, ternyata godaan ketiga ini, yakni godaan kemandegan secara laten akan menerpa bagi siapapun yang merasa telah sampai pada situasi kemapanan. Dengan kondisi serba kecukupan, nyaman dan perasaan tenang yang tercipta di benak orang yang sudah mapan, ternyata muncul ancaman kemunduran.

Sedikit demi sedikit ketumpulan analisa, kelambatan berpikir, kekurangkritisan serta kelambanan gerak akan segera menghadapi orang-orang yang mapan bila ia terlena dan menikmati kemapanan yang ada. Padahal hukum besi sejarah pasti akan berlaku, "siapa yang tak berguna, ia akan disingkirkan sejarah, menepi ke garis masa lalu dan kemudian akan mati merana, menyesali diri karena telah melewatkan masa keemasan secara berlebihan dan tanpa persiapan".

Dari ketiga godaan tadi, sebenarnya telah sangat banyak orang berhasil melewatinya dengan baik. Mereka bukan tidak ingin, tapi mereka adalah orang-orang yang masih memiliki kesadaran yang utuh dan terjaga, sehingga setiap godaan yang muncul bisa mereka hindari dengan baik. Mereka, juga sebagian tahu cara dan mekanisme dari jalan keluar yang mereka hadapi. Mereka dengan kesadaran menjadi manusia sejati, memilih jalan pengabdian dan penghambaan dalam hidupnya.

Kemapanan atau ketidakmapanan (bagi yang belum) adalah merupakan masalah waktu saja, bila kita istiqomah dan memenuhi semua unsur dan prasyarat kemapanan, insyaallah kemapanan cepat atau lambat akan kita raih. Yang penting bagi kita saat ini adalah, bagaimana kita senantiasa bersyukur atas realitas yang saat ini kita hadapi dan Allah berikan pada kita. Mudah-mudahan dengan kesyukuran ini, Allah akan tambahkan nikmat yang banyak.

Barangsiapa yang syukur, Allah akan tambahkan nikmat-Nya dan bagi siapa saja yang tidak bersyukur (kufur) maka sesungguhnya adzab Allah amat pedih.

Wallahu'alam bishowwab.